Ujian atau Cobaan Bagi Seorang Mukmin

Ujian-Ujian Bagi Mukmin: Fluktuasi Kehidupan ." berdoaKehidupan manusia di dunia ini tidak tetap. Suatu saat melewati pergantian masa kebahagiaan dan kecemasan, kekuatan dan kelemahan, kekayaan dan kemiskinan, masa sehat dan masa sakit dan sebagainya. Orang beriman yang sesungguhnya adalah orang yang memelihara derajat kebersihan imannya di sepanjang fluktuasi duniawi. Dia terus mengingat Allah dan mengaitkan karunia kepada-Nya. Dan dia berjalan kepada-Nya dalam ketundukan, meminta untuk dibebaskan dari penderitaan.

“Sungguh sangat menakjubkan perkara-perkara orang mukmin ! karena semua keadaannya adalah baik baginya. Dan yang demikian itu tidak mungkin terjadi bagi seseorang kecuali seorang mukmin. Jika dia mendapat nikmat, dia bersyukur, dan ini adalah terbaik baginya, dan jika ia tertimpa musibah, ia bersabar, dan ini adalah terbaik baginya.” (HR. Muslim)

Dan Allah Subhanhu Wa Ta'ala berfirman (yang artinya) :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.“ [Surat Al- Baqarah, 2:155-157]

Maka dari itu, seorang mukmin sudah semestinya menunjukkan terima kasih dan rasa syukur atas semua berkah mengagumkan yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Dan dia memperlihatkan kesabaran dan ketundukan di waktu mengalami sakit dan kesukaran, kelaparan atau penderitaan lainnya.

PENDERITAAN- PENDERITAAN MENGUNTUNGKAN ORANG MUKMIN

Allah telah menetapkan bahwa, di dalam kehidupan ini, penderitaan- penderitaan dan bencana-bencana menimpa keduanya, bagi orang-orang beriman maupun orang-orang kafir. Bagi orang yang tidak beriman (orang kafir), mereka merasa susah dengan hal itu yang menghalanginya dari aktivitas biasanya di kehidupan duniawi. Bagi seorang mukmin sebaliknya, mereka menganggapnya sebagai waktu istirahat dan introspeksi , ujian-ujian itu menjanjikan ganjaran yang besar, dan sebagai tanda pertaubatan dan pengampunan. Sekecil apapun bencana yang menimpa seorang mukmin, ini membawa kabar gembira dan pengampunan dan menaikkan derajat (di surga). para ulama biasa untuk merasa senang ketika kesukaran menimpa mereka dan melihatnya sebagai tanda pengampunan dan kemurahan Allah.

PENGAMPUNAN DARI DOSA-DOSA

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Musibah senantiasa menimpa orang-orang mukmin, baik laki-laki ataupun perempuan, baik pada jiwanya, anak-anaknya, maupun hartanya hingga mereka menghadap Allah dengan tanpa membawa dosa.” (HR. At-Tirmidzi)

TANDA DARI KECINTAAN ALLAH

Abu Hurairah berkata, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang dikehendaki oleh Allah kebaikan, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya”. (HR. Bukhari)

TANDA KEIMANAN

“Artinya : Perumpamaan orang mukmin ibarat sebatang pokok yang lentur diombang-ambing angin, kadang hembusan angin merobohkannya, dan kadang-kadang meluruskannya kembali. Demikianlah keadaannya sampai ajalnya datang. Sedangkan perumpamaan seorang munafik, ibarat sebatang pokok yang kaku, tidak bergeming oleh terpaan apapun hingga (ketika) tumbang, (tumbangnya) sekaligus”. [Bukhari : Kitab Al-Mardha, Bab I, Hadist No. 5643, Muslim No. 7023, 7024, 7025, 7026, 7027].

TANDA KESALIHAN

Para nabi dan orang-orang shalih merupakan orang-orang yang paling diuji, dan pahala mereka adalah yang paling besar.

Sa’ad berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Yang paling menderita diantara orang-orang adalah para nabi, kemudian yang paling serupa dengannya, kemudian yang paling serupa dengannya (selanjutnya) . Seseorang itu diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika kadar beragamanya (imannya) kuat maka ujiannya akan semakin keras, dan jika kadar beragamanya lemah maka ujiannya ringan. Sesungguhnya seorang hamba akan senantiasa diuji sampai dia akan dibiarkan berjalan di muka bumi ini tanpa membawa dosa. (HR. Ahmad, Tirmidzi)

HUKUMAN YANG DISEGERAKAN (DI DUNIA)

Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, Dia akan menyegerakan siksanya di dunia, dan bila Allah menghendaki kejelekan bagi hamba-Nya , maka Allah akan menahan siksa-Nya atas dosa-dosanya, hingga akan dibalas pada hari kiamat.” (HR.Tirmidzi)

PAHALA YANG BERLIPAT-LIPAT

Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Sesungguhnya besarnya pahala diukur dengan besarnya ujian, dan bila Allah suka kepada suatu kaum, maka mereka diuji. Barangsiapa yang ridho (dengan ketetapan Allah) maka akan menerima keridhoan Allah dan Barangsiapa yang tidak suka (dengan ketetapan Allah), maka akan menerima kemarahan Allah.“ (HR.Tirmidzi)

PAHALA BAGI SUATU PENYAKIT

Seseorang seharusnya tidak melihat sakit sebagai peristiwa yang suram, tetapi harus melihat kebajikan yang besar darinya. Ini merupakan satu bentuk derita yang dengannya Allah menguji hambanya, memberi mereka kesempatan untuk memperoleh pahala, sebagaimana yang dijelaskan di atas, sebagaimana ditegaskan di bawah ini :

MENGHAPUSKAN DOSA-DOSA DAN MENAIKKAN DERAJAT

Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “ Kapanpun seorang muslim diuji dengan penderitaan dari penyakit maupun yang semisalnya, maka Allah akan mengangkat dosa-dosanya dikarenakan hal itu, seperti sebuah pohon yang menggugurkan daun-daunnya” . (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Sa’id Al-Khudry berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Tidaklah seorang muslim mengalami musibah, penyakit, kesedihan, kecemasan, kesusahan, atau tekanan jiwa – bahkan tertusuk sebuah duri- kecuali Allah akan menghapus dosa-dosanya atas musibah-musibah tersebut.

Sa’id berkata :

“Saya dulu bersama Salman ketika beliau mengunjungi seoarang yang sakit di Kindah (Persia) dan beliau berkata kepadanya (si sakit) :” Harapkanlah kebaikan karena Allah menciptakan sakit bagi seorang mukmin sebagai penghapusan dosa-dosanya dan waktu untuk beristirahat. Namun, ketika seorang yang tidak beriman (cttn : di hadis yang sama pada artikel ttg sakit, di situs jilbab.or.id penulisnya menulis seorang yang tidak beriman pada artikel ini sebagai —–“fasiq”, ) jatuh sakit, ia seperti seekor unta yang ditinggalkan pemiliknya yang kemudian membiarkannya lepas – ia (unta tsb) tidak mengerti mengapa ia diikat atau dilepaskan.” (HR.Bukhari)

(Tambahan : Maksudnya, penyakit itu merupakan penebus dosa bagi orang mukmin dan penyebab taubat dan kesadarannya dari kelalaian. Berbeda dengan orang-orang fajir, yang tetap durhaka, tidak terpengaruh oleh penyakitnya dan tidak mau kembali kepada Rabb-nya. Dia tidak tahu kalau penyakit itu menimpa dirinya, agar dia sadar dari kelalaian dan agar kembali kepada kebenaran. Ibaratnya seekor keledai yang dipegang dan diikat, kemudian dilepas kembali, namun ia tidak tahu mengapa ia diikat lalu dilepas lagi.

Aisyah berkata :

Suatu ketika Rasulullah terkena beberapa penyakit yang menyebabkan beliau menderita dan berbalik di tempat tidurnya. Dia (Aisyah) berkata “Kalau saja salah seorang dari kita menempuh ini, kamu pasti akan mengutuknya” .Rasulullah menjawab : “Sebuah penyakit ringan ditambah bagi orang shalih. Kapanpun seorang mukmin ditimpa oleh kesukaran, apakah itu disebabkan oleh sebuah duri atau pun lebih dari itu, sebuah dosa diangkat darinya dikarenakan hal itu, dan dia diangkat derajatnya (di surga). (HR.Ahmad)

TETAP MEMPEROLEH PAHALA BAGI PERBUATAN YANG DILAKUKAN SEBELUM SAKIT.

Biasanya, ketika seorang mukmin sakit, dia tidak dapat melakukan kebajikan (sholat, puasa, menolong orang dan sebagainya) dalam jumlah yang sama dengan yang biasa ia lakukan ketika dia sehat. Tetapi karena kebaikan Allah yang Maha Pemurah, Allah meneruskan mencatat perbuatan baik yang terpaksa terhenti dikarenakan sakit.

Abu Musa Al-Ash’ary berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Bagi seorang musafir atau orang yang sakit, amal-amalnya akan dicatat sesuai dengan apa yang biasa dia lakukan ketika dia mukim atau sehat. (HR. Bukhari)

Abdullah bin Amr berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Tidak seorang (mukmin) pun yang terkena sakit, melainkan (amal-amalnya) akan dicatat sesuai dengan apa yang biasa dia lakukan ketika dia sehat. (HR. Bukhari)

Anas berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda :” Tidak seorang muslim pun yang menderita karena Allah, melainkan Dia akan mencatat (amal-amalnya) sesuai dengan apa yang biasa dia lakukan ketika dia sehat – selama dia sakit. Maka, apabila Dia mewafatkannya, Dia mengampuninya; dan jika Dia menyembuhkannya, Dia membasuhnya (dari dosa-dosa). (HR. Bukhari)

‘Uqbah Bin ‘Aamir berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda : “ Setiap hari amal-amal ditutup dengannya. Maka, ketika seorang mukmin sakit, malaikat-malaikat berkata : “Wahai Tuhan kami ! Hambamu demikian dan demikian, Engkau telah menahannya (dari melakukan kebaikan hari ini). “Dan Allah menjawab : “Tutup harinya dengan sesuai dengan amal-amalnya (yang biasa dia lakukan) hingga dia sembuh atau meninggal.” (HR.Ahmad)

ALASAN UNTUK PAHALA TERSEBUT

‘Atta Bin Rabaah berkata, Ibnu Abbas berkata kepada saya, ”Sukakah kamu saya beritahu mengenai seorang wanita dari penduduk syurga? “Saya menjawab”Tentu saja” Ia berkata :”Dia adalah wanita hitam ini. Ia datang kepada Rasulullah dan berkata : “Saya mempunyai (penyakit ayan)”, dan (jika kumat) badanku tersingkap, maka mohonkanlah kepada Allah untukku”. Dia (Rasululllah) berkata” Jika kamu ingin, bersabarlah dan engkau akan memperoleh surga”; atau jika kamu ingin, saya akan meminta kepada Allah untuk menyembuhkanmu” .

Dia menjawab : “Saya akan bersabar! tetapi badanku akan tersingkap (karena jatuh saat penyakitnya kumat), maka mohonkanlah kepada Allah untukku agar aku tidak tersingkap.” Dan Rasulullah mendo’akannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Para ulama mempunyai pendapat yang berbeda mengenai apakah seorang yang sakit akan diganjar karena penyakitnya itu sendiri ataukah karena kesabarannya selama sakit itu. Pendapat yang benar adalah jika dia bersabar dan tunduk kepada kehendak Allah, sebagaimana hadis di atas, di akan diganjar atas keduanya, atas ketundukan dan penyakit. Sebaliknya, ia tidak akan diganjar sedikitpun karena ia benci terhadap ketetapan Allah. Ini sebagaimana yang dipahami dari perkataan Ibnu Hajar Al-Asqolani :

“ Hadis-hadis yang shahih menjelaskan bahwa ganjaran-ganjaran dicatat sewaktu penderitaan menimpa seorang muslim. Mengenai kesabaran dan kepasrahan, mereka adalah kebajikan yang diperuntukkan bagi seorang muslim yang mungkin mendapat ganjaran-ganjaran melebihi semua penderitaan itu.”

‘Abdullah Bin ‘Amr berkata bahwa Rasulullah bersabda :” Apabila seorang muslim tertusuk oleh sebuah duri di kehidupan dunia ini, dan dengannya ia mencari pahala dari Allah, beberapa dosanya akan diangkat, dikarenakan hal itu, pada hari kiamat.” (HR.Bukhari)

Ref: Situs Islam

BAGIKAN KE ORANG TERDEKAT ANDA
ONE SHARE ONE CARE

Sekilas tentang penulis : Aksara Tanpa makna

Dakwah Islam, Kebenaran Islam, Islam Toleran