Kajian Syarat Diterimanya Ibadah

Upaya untuk menjadikan suatu ibadah yang kita lakukan itu bernilai ikhlas hanya untuk Allah merupakan perkara yang tidak mudah. Bahkan lebih berat daripada amal ibadah itu sendiri. Padahal keikhlasan merupakan salah satu syarat diterimanya suatu ibadah sebagaimana banyak diterangkan dalam ayat Al Qur"an dan hadits Nabi Muhammad Shallallahu"alaihi wa sallam. Bisa jadi pada saat kita beribadah, kita telah mengikhlaskan segalanya untuk Allah. Tetapi di lain waktu, karena terdorong riya" kita pun membeberkan ibadah yang telah kita sembunyikan untuk Allah semata. Hanya kepada Allah kita meminta pertolongan.
Agar kita bisa beramal dengan ikhlas dan menghindari dari sifat riya". Simaklah persyaratan agar amal diterima Allah; Perintah untuk ikhlas dan peringatan agar terhindar dari riya"; Renungkan pula apa yang dimaksud dengan mengosongkan hati hanya untuk Allah semata. Perlu juga Anda ketahui macam-macam riya" dan kesalahan sebagian masyarakat yang menganggap suatu amal sebagai riya" padahal bukan riya", atau yang dianggap ikhlas padahal bukan ikhlas. Dengan memahami penjelasan diatas semoga Anda bisa mengetahui bagaimana caranya agar dapat beramal secara ikhlas hanya untuk Allah semata.

Berikut saya kutipkan sebagian dari sumber islami dengan meringkasnya.

MACAM-MACAM RIYA"

--------------------

1. Riya" badan

Yaitu dengan memperlihatkan badan yang kurus dan pucat agar orang lain melihat bahwa dia adalah orang yang rajin dalam beribadah, sangat takut akan akhirat, atau dengan suara yang lembut, menampakkan mata yang cekung atau dengan menampakkan kelayuan badan agar menunjukkan bahwa dia adalah orang yang selalu rajin di dalam berpuasa.

2. Riya" dari segi perhiasan

Dengan membuat bekas sujud pada muka, atau dengan memakai hiasan khusus, yang sebagian kelompok menganggapnya bahwa dia adalah seorang ulama, dia memakai pakaian tersebut agar disebut sebagai seorang alim.

3. Riya" dengan ucapan

Ini paling banyak dilakukan oleh ahli agama ketika memberikan nasihat, dan menghafal suatu riwayat ketika berbicara, menampakkan keluasan ilmu, menggerakkan dua bibir dengan dzikir di hadapan orang lain, menampakkan kemarahan ketika mengingkari kemungkaran di hadapan orang lain dan memelankan suara dan melembutkannya ketika membaca al Qur"an agar hal tersebut menunjukkan rasa takut, sedih dan kekhusyu"an.

4. Riya" dengan perbuatan

Seperti riya" orang yang melakukan shalat dengan lama berdiri, ruku" dan sujud, dan dengan menampakkan kekhusyu"an. Riya" dengan puasa, berperang, haji, shadaqah, juga yang lainnya.

5. Riya" dengan banyaknya teman dan orang-orang yang mengunjunginya

Seperti orang yang berusaha untuk mengundang para ulama atau ahli ibadah ke rumahnya agar dikatakan kepadanya, "Sesungguhnya si fulan telah mengunjungi si fulan," atau dengan mengundang banyak orang ke rumahnya agar dikatakan kepadanya, "Bahwa ahli agama selalu datang dan pergi kepadanya."

YANG DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN RIYA"DAN SYIRIK PADAHAL BUKANLAH DEMIKIAN

--------------------------------------

1. Pujian seseorang kepada yang lainnya terhadap suatu perbuatan yang baik.

Diriwayatkan dari Abu Dzarr radhiyallahu"anhu, beliau berkata:

"Rasulullah shallallahu"alaihi wa sallam ditanya, "Bagaimana menurut baginda tentang orang yang melakukan suatu perbuatan baik, lalu orang lain memujinya?" Rasulullah shallallahu"alaihi wa sallam menjawab, "Itu adalah kabar gembira bagi seorang mukmin yang disegerakan." (HR. Muslim no 2642 (166)).

2. Kegiatan seorang hamba dengan beribadah di pandangan para ahli ibadah.

Al Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (ha. 234), "Terkadang seseorang menginap di rumah orang yang ahli di dalam bertahajjud, lalu dia melakukan shalat pada kebanyakan malam, padahal kebiasaan dia melakukan shalat hanya dalam satu jam saja, dia menyesuaikan dirinya dengan mereka, dan dia berpuasa ketika mereka melakukan puasa. Jika bukan karena mereka, niscaya tidak akan timbul di dalam dirinya kegiatan seperti ini.

Sebagian orang menyangka bahwa sikap seperti ini merupakan riya", bahkan secara umum hal ini sama sekali bukanlah riya", akan tetapi di dalamnya ada perincian, yang bahwa setiap mukmin pada dasarnya sangat senang untuk melakukan ibadah-ibadah kepada Allah, akan tetapi berbagai kendala telah menghalanginya, begitu pula banyak kelalaian yang telah melupakannya, mungkin saja menyaksikan orang lain telah menyebabkan kelalaian tersebut lenyap."

Kemudian beliau berkata,

"Dia harus menguji dirinya dengan melaksanakan ibadah di suatu tempat, di mana dia dapat melihat orang lain sedangkan orang lain tidak dapat melihatnya, jika dia melihat jiwanya yang tenang dengan beribadah, maka itulah hati yang ikhlas, sedangkan jika jiwanya itu tidak tenang, maka ketenangan jiwanya ketika beribadah di hadapan orang lain adalah sebuah sikap riya", dan kiyaskanlah yang lainnya kepadanya."

3. Memakai pakaian atau sandal yang baik.

Di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ibnu Mas"ud radhiyallahu"anhu dari Nabi shallallahu"alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda:

"Tidak akan masuk Surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar atom," lalu seseorang berkata, "Sesungguhnya seseorang suka memakai pakaian yang indah dan sandal yang indah," Rasul bersabda, "Sesungguhnya Allah indah dan menyukai yang indah, kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain." (HR. Muslim no. 91 (147), at Tirmidzi no. 1999).

4. Tidak membicarakan dosa dan menyembunyikannya.

Secara syara" ini merupakan sebuah kewajiban bagi seorang muslim, sebaliknya seseorang tidak diperbolehkan untuk menampakkan kemaksiatan, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu"alaihi wa sallam:

"Semua umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan dosa secara terang-terangan, dan sesungguhnya termasuk (hukum) melakukan dosa secara terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan (dosa) pada malam hari, dan Allah subhanahu wa ta"ala telah menutupinya, kemudian pada waktu pagi hari dia mengatakan, "Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu," padahal Allah telah menutupinya sedangkan pada pagi hari dia membuka apa-apa yang telah Allah tutupi." (HR. Al Bukhari, no. 6069, Muslim no. 2990 (52)).

5. Mendapatkan ketenaran tanpa meminta.

Al Maqdisi berkata di dalam kitab Mukhtashar Minhaajil Qaashidiin (hal.218), "Yang tercela adalah seorang manusia yang mencari ketenaran, sedangkan keberadaannya yang merupakan karunia dari Allah subhanahu wa ta"ala tanpa dicari, maka hal tersebut sama sekali tidak tercela, akan tetapi keberadaannya merupakan fitnah bagi orang-orang yang lemah."

MENGOBATI PENYAKIT RIYA" DAN BERLEPAS DIRI DARINYA

-------------------------------

1. Mengetahui keagungan Allah subhanahu wa ta"ala, Nama-Nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya dan penuh perhatian terhadap ketauhidan sesuai dengan kemampuan.

2. Mengetahui siksa dan nikmat kubur.

3. Mengetahui hadits-hadis yang menjelaskan tenang adzab Neraka.

4. Mengetahui segala sesuatu yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang bertakwa di Surga sesuai dengan kemampuannya.

5. Mengingat kematian dan pendeknya harapan.

6. Mengetahui nilai dunia dan kefanaannya.

7. Do"a.

8. Rasa takut bahwa riya" tersebut adalah kesempatan terakhir bagi amal Anda.

9. Banyak melakukan amal kebaikan yang tidak disaksikan oleh orang lain, dan tidak memberitahukannya kepada orang lain kecuali jika dibutuhkan.

10. Bersahabat dengan orang yang tampak di pandangan Anda bahwa mereka adalah orang-orang yang selalu melakukan keikhlasan, amal shalih, dan ketakwaan.

11. Takut melakukan riya".

12. Menjauhi celaan Allah.

13. Lebih cinta diingat oleh Allah daripada diingat oleh makhluk.

14. Mengetahui segala sesuatu yang dapat mengusir syaitan.

YANG DIANGGAP SEBAGAI PERBUATAN IKHLAS AKAN TETAPI TIDAKLAH DEMIKIAN

--------------------------------------

1. Terkadang keikhlasan bercampur dengan sesuatu keinginan jiwa, seperti orang yang mengajar karena ingin merasakan nikmat dengan keindahan kata-kata, atau orang yang berperang agar pandai di dalam berperang, ini sama sekali bukan kesempurnaan ikhlas kepada Allah.

3. Terkadang seseorang melakukan riya tidak dengan menampakkan ibadahnya dengan ucapan, baik secara sendirian maupun terang-terangan, akan tetapi dengan tanda-tanda, seperti menampakkan kelesuan, muka pucat, suara dilemahkan, bekas air mata dan banyak mengantuk sebagai akibat dari banyaknya shalat malam.

5. Terkadang seseorang merasa berat untuk melakukan tahajjud setiap malam, tetapi ketika datang kepadanya seorang tamu, maka dia akan merasa ringan dan mudah untuk melakukannya.

7. Terkadang seseorang datang kepada suatu undangan, karena pengetahuannya bahwa makanan di tempat tersebut akan lebih baik daripada makanan di rumahnya, artinya yang mendorong dirinya untuk mendatangi undangan tersebut adalah kesenangan akan makan dan bukan karena melaksanakan ketaatan kepada Allah dalam memenuhi undangan.


PERSONAL VIEW

------------------

Ada dua syarat agar amal ibadah yang kita lakukan diterima Allah subhanahu wa ta'ala. Yang pertama adalah ikhlas dan yang kedua adalah sesuai dengan syari"at Rasulullah shallallahu"alaihi wa sallam. Bagaimana jadinya bila amal ibadah yang kita lakukan tidak disertai dengan niat ikhlas untuk Allah? Allah subhanahu wa ta'ala menjelaskan,

"... Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu...." (QS. Az Zumar: 65).

Bahwa pentingnya untuk ikhlas dalam beribadah kepada-Nya, sehingga jerih payah kita dalam beribadah tidak sia-sia. Termasuk yang perlu untuk diketahui oleh kita adalah apa-apa yang dianggap sebagai ikhlas dan apa-apa yang dianggap sebagai riya" dan syirik. Jangan sampai karena kelalaian kita, kita menganggapnya sebagai ikhlas, tetapi sebenarnya adalah riya", atau sebaliknya. Maka sudah sepatutnya kita memahami masalah ikhlas ini.

Kita memohon kepada Allah agar bisa beribadah dengan ikhlas untuk-Nya semata, sebagaimana doa Nabi Ibrahim "alaihissalam:

"... Sesungguhnya jika Rabb-ku tidak memberi hidayah kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat." (QS. al An"aam: 77).
Sumber : Muslim

BAGIKAN KE ORANG TERDEKAT ANDA
ONE SHARE ONE CARE

Sekilas tentang penulis : Aksara Tanpa makna

Dakwah Islam, Kebenaran Islam, Islam Toleran